telah kutumbuhkan sunyi
pada tangkai-tangkai hati
tempat kilau embun
setia terayun
tempat pelangi
jatuh terjulai diseka matahari
dari kaki-kaki ilalang
angin beriringan
menyanyikan nada-nada
yang sedang kita coba tuliskan
ah! cuaca tak pernah sabar bukan?
mengirim hujan
meruntuhkan setiap detik yang kita simpan
sementara waktu
tak lagi malu-malu
berlalu
Posted at 06:55 pm by kation
Permalink
kutelusuri hitam
pada matamu
sebuah lorong
demikian jauh
sebuah harapan
oh! mengapa begitu rapuh?
apakah sekedar bahagia
terbaca di ujung sana?
seperti rahasia
yang pernah disembunyikan takdir pada kita
seperti bianglala
menanti hujan menyibakkan mega
jika cinta ini mimpi
maka bangunkanlah
biar kuhentikan langkah
agar tak lagi terperanjat
saat mentari berjingkat
memulas pagi pada kaca
bukankah di jendela itu juga
hari pernah menenggelamkan senja?
Posted at 09:53 pm by kation
Permalink

langit siang ini adalah padang
terik yang sedang memandang
cakrawala yang menggenggam kehampaan
tak ada burung-burung di udara
mengepak sayap-sayap cuaca
menyibak lipatan-lipatan doa
angin bening
sehelai daun menguning
tiba-tiba?
atau syahdan pernah dimulai suatu ketika?
tapi kita kenali perlahan-lahan
antara pohon dan bebatuan
antara hijau dan keheningan
tangkai-tangkai sepi
tumbuh meringkus hati
Posted at 01:28 pm by kation
Permalink

kemanakah menghilang warna-warna bunga
jatuh terbantun pada dinding cuaca
saat pagi mengetuk kaca
tak kita temukan ceria kata-kata
untuk melukis fajar yang kehilangan jingga
pun demi menghapus murung di hari mendung
kemana pula mimpi yang kita dekap di dalam kelam
yang mengigau saat langit melukis bulan
meringkuk bersama burung-burung di balik dedaunan?
atau sedang mencabik segumpal awan sepenuh asa?
Posted at 02:05 pm by kation
Permalink

kadang aku takut kau datang
larut bersama hujan
mengabur kelabu jalan
samar berbaur dengan selokan
ah! tapi kan kau hanya kenangan
dinding masa lalu yang penuh lubang
seperti angin mencangkung rerumputan
wajahmu pucat
hanya ujung-ujung jarimu
mengibas jua warna debu
Posted at 06:43 pm by kation
Permalink
mungkin kau yang bernama gerimis

mungkin kau yang bernama gerimis, yang gemar mencipta garis
sayup menapak jalan berdebu
jemari ragu menyibak paras waktu
adakah yang ingin kausampaikan, suara gemerisik di udara muram?
"aku ingin menuju biru lautan,"
tapi kau tersendat di tepian dahan
kilau yang bergelayut di ujung dedaunan
"mungkin dapat kulukis pelangi di langit senja,"
tapi kau tergelincir menimpa batuan
tapi kau mengalir menuju selokan
tapi kau purna di balik kelokan
atau sesungguhnya kau hanyut dalam impian?
"aku akan pergi menuju masa depan,"
tapi butirmu telah menghilang
tapi bisikmu menjelma denting kesunyian
kautahu sayang,
jeda yang kautinggalkan
terusik lonceng jam yang tak sengaja berkelontang
tepat lima kali di antara petang
atau sesungguhnya kau telah hanyut dalam mimpi masa depan?
Posted at 12:28 pm by kation
Permalink