.... ada cerita dikit di luar reuni. Seorang dosen senior terlihat tidak suka dengan pilihan beberapa alumni yang memilih bekerja di luar bidang kimia, ataupun yang memilih menjadi PNS. Dia lebih menghargai alumni yang bener-bener kerja di bidang kimia.
Pas dia nanya gw kerja di mana, trus gw bilang kalo gw kerja di penerbitan sebagai editor dan sebelumnya gw keluar dari perusahaan farmasi, keliatan banget gak sukanya dan gak antusias ngobrol sama gw (gw gak bisa ngebayangin ekspresinya, kalo terus terang gw bilang: Ih ibu, saya 'kan lulus kimia cuma buat dapet gelar S1 doang, cita-cita saya yang sebenarnya kan mo jadi komikus, penulis cerita anak dan illustrator buku. Shock banget kali ya kalo gw bilang gitu).
Gw jadi rada bete juga sih. Cara pandang mereka dan gw terhadap kesuksesan karier dah beda. Kesuksesan karier buat gw adalah kalo gw bisa mencapai cita-cita gw itu. Tapi kesuksesan karier buat mereka itu adalah bisa mencapai level manager diperusahaan berbau kimia dengan kerjaan yang berhubungan dengan ilmu kimia, dalam waktu sesingkat mungkin....
Forward mail itu kuterima siang ini. Dikirimkan oleh Diba, sahabatku sejak kuliah, dengan embel-embel hihihi sebagai pengantarnya. Aku juga sempat terkikik juga membacanya.
"Memang ukuran kesuksesan buat kamu apa Dib?"
Iseng kukirim pertanyaan lewat mail.
Dia menjawab cepat,
"Wah aku gak pernah mikirin definisi sukses itu apa, mungkin orang yang bisa mensyukuri apapun, karena dengan begitu apapun yang dia hadapi bisa dia terima dan artinya hatinya selalu bisa tenang kan? hehe... Kalo menurut kamu sendiri apa?"
Aku terdiam.
Apa ya?
Sebagai sesama dosen dengan yang disebut di forward mail itu, tentu saja aku juga tidak menganggap menjadi komikus atau ilustrator buku adalah ide yang baik untuk mewujudkan karier seorang ahli kimia. Tapi kalau aku sendiiri tidak tahu ukuran sukses, bagaimana juga aku bisa mengatakan ketidaksetujuanku?
Menapak tilas perjalanan karierku sendiri aku juga terheran-heran. Sejak SD sampai SMA bisa dibilang aku masuk kelompok terbaik. Tapi entah takdir entah nasib sehingga aku terdampar di ilmu kimia murni.
"Kimia?" kata orang-orang yang baru mengenalku dengan ngeri.
"Wow! Chemistry!" kata yang lainnya.
Aku tahu mereka pasti membayangkan aku seharian terkubur di lab, bermuka rumus dan berparfum bahan kimia.
Tapi memangnya aku seharian terkubur di lab?
Iya..
Memang bermuka rumus?
Kata temanku sih dari kecil mukaku kayak rumus...
Baumu kayak aseton?
Mmmm... mmm....
Yeeeeee!!
Tapi apakah aku sukses?
Waduh.... ga tau...
Sukakah aku dengan pekerjaanku?
Iyalah!
Apakah aku puas dengan karierku?
Lumayan..
Apakah kamu bahagia?
Banget! Inar baik banget sih hihi...
Sampai sini dialog dengan diri sendiri terhenti.
Hujan lebat di luar dan aku lupa membawa payung (lagi!).